
Reporter geosurvey.co.id, Dennis Destyawan
geosurvey.co.id, Jakarta – Ombudsman Indonesia menekankan bahwa penting untuk meningkatkan pengelolaan minyak sawit.
Peningkatan ini dilihat dalam berbagai aspek untuk meningkatkan potensi pendapatan dari industri minyak sawit.
Anggota Indonesia dari Ombudsman Yek Hendra Fatik mengatakan beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dalam industri minyak sawit. Misalnya, aspek penggunaan lahan, aspek integrasi politik dan lisensi dan aspek perdagangan.
“Jika ditingkatkan, negara menerima pendapatan tambahan 279,1 triliun U /p,” kata Jeka di Jakarta pada hari Senin (18.18.2024).
Dalam aspek konsumsi tanah, ada tumpang tindih dan potensi kehilangan 74,1 triliun rp.
Kemudian aspek membatasi integrasi pedoman dan lisensi dalam bentuk akuakultur (STDB) dan peremajaan gergaji rakyat (PSR) dan RP 111,6 triliun rp.
Aspek perdagangan terkait dengan kualitas bibit yang tidak sesuai dengan minyak kelapa sawit berkelanjutan Indonesia, kemungkinan kerugian 81,9 triliun rp dan aspek dari pendapatan/kerugian laba karena evaluasi yang tidak sesuai dengan standar standar bundel buah segar (FFB) 11,5 triliun/tahun.
“Jika kita memberikan potensi kerugian dalam aspek tanah, aspek lisensi dan aspek perdagangan, kerugian mencapai 279,1 triliun rp,” kata Yeka.
Masalah yang paling sering terjadi dalam aspek tanah adalah tumpang tindih telapak tangan minyak dengan area hutan.
“Masalahnya harus diselesaikan dengan preferensi kepemilikan tanah, yang diterbitkan oleh bukti kepemilikan Landmark (HAT) dan pengakuan hukum lainnya,” kata Yeka.
Maka masalah utamanya adalah mengelola industri minyak sawit dalam perizinan rendahnya pencapaian sertifikat akuisisi data dari pendaftaran akuakultur dan sertifikasi ISPO.
“Dan ketidakpastian air limbah Layanan Persetujuan Teknis (PEMKN) di daerah air limbah di tanah,” tambahnya.
Dalam aspek perdagangan adalah masalah utama yang sering terjadi, lisensi Palmölmühle (PKS), program kebijakan bisnis untuk turunan minyak palmender dan pengelolaan dana palem.
Dia mendorong pemerintah untuk menemukan agen nasional untuk urusan minyak kelapa sawit, yang tepat di bawah presiden. Ini dianggap perlu untuk mengintegrasikan pedoman yang terkait dengan politik dan untuk memantau implementasi peraturan sehubungan dengan masalah minyak sawit.